Puisi – Titik Balik

Kalau saja diizinkan Dalam kurun waktu dunia Daku memilih berbalik Berbalik arah menuju kedamaian Memang harta membahagiakan Tapi tak seabadinya abadi Sejatinya ada yang lebih membahagiakan Tapi jarang dianggap hadirnya Kedamaian hati Cukup itu saja titik Sekedar Puisi, Siwi Ka Iklan

Cerpen – Pintu 1 2 3 Selanjutnya

“Pak, aku mau sekolah di sekolah islam ya habis lulus SD” Siang itu matahari sedang terik teriknya, ada seorang bapak sedang duduk santai di kursi rumah dan seorang anak tiba tiba membuka pembicaraan nama anak itu Alya, “Lha, kenapa kamu gak sekolah di sekolah negeri deket sini aja Al?” tanya Bapak Alya “Em, gak tau…

Puisi – Berjuang

Bertemu di titik terang Tak selamanya tanpa perjuangan Bisa saja salah memperjuangkan Atau malah kurang berjuang Benar caranya belum tentu sasarannya Jika memang lelah berjuang Tinggal saja sebagai titik akhir perjuangan Sekedar Puisi

Puisi – Ternyata

aku ingin menutup mata saat bersamamu merasakan hadirmu bukan dengan mata tapi dengan perasaan keadaan tak berpihak dia telah kau pilih entah dengan hati atau sandiwara belaka terimakasih sudah membuat luka doakan lekas sembuh saja   Sekedar PuisiĀ 

Puisi – Pergi

Bagaimana dengan yang ini Sulit bagi yang kehilangan Memang ada alasan bukan? Bukan pergi namanya jika kembali Memang sudah jalannya Yang harus dijalani Tak mengerti akhirnya Cuma ikhlas obatnya Cukup.   Sekedar Puisi Siwi

Tulisan – Hujan Setengah Dua

Hujan memang tak pernah peduli waktu ia turun, tak peduli orang orang di bumi menginginkan hujan atau tidak. Ia tak akan peduli ada orang yang luka karena hujan itu atau teringat kenangan saat ia pernah bersama orang yang berarti dalam hidunya. Tapi aku salut kepada hujan yang mampu bertemu dengan matahari. Meski memang kecil kemungkinan…

Puisi – Bukan Keluarga

Berada dalam dimensi waktu selama 245 hari Itu cukup lebih dari cukup Sudah cukup erat sampai semua terikat Tersingkap dalam kenangan hidup Kisah kasih dalam eratnya keluarga Memang bukan keluarga sebenarnya Tapi itu perkiraan bukan kenyataan Memang bukan keluarga sebenarnya Tapi semua ini terlalu nyaman Sulit untuk pisah, sedih untuk pisah Memang bukan keluarga sebenarnya…

Andaikan jadi Kecil lagi

Terkadang aku berpikir, ingin jadi anak kecil lagi. Pola pikir mereka sederhana, kalau nggak main makan ya tidur. Mereka hidup dalam kesederhanaan yang diatas sederhana tak mengenal apa itu cinta. Saat usia labil, ah bernegoisasi dengan perasaan, seneng memang tapi awalnya aja, selanjutnya ya tergantung yang ngejalanin. Tapi berhadapan dengan skenario cinta itu kayak benang…

Do’a

Termasuk dalam elegi Atau sebaris kata Tapi tak sekedar kata Bukan materi, tapi mahal harganya Bukan sekedar kata Ia hadir dari orang tersayang Mengiringi langkah tanpa ada wujudnya Tapi itu realita Hanya do’a yang tulus Menitih hidup agar mulus Karena itu serius diatas seirus

buat Ibuk

  Pengorbanannya, bukan main main, bukan sekedar pengorbanan. Beliau ada di setiap derap langkahku, menemani setiap suka duka. Beliau mengajarkan kebajikan menjadi seorang manusia, memperjelas arti kehidupan, mengenalkan arti kerjakeras Ibu, saat tidak ada jiwa raga mu nanti, pengabdianmu tetap hidup disini ,iya disini dalam jiwaku, anakmu.

Lantas?

Masih bergumam dengan perasaan. Damai, hampir impian semua orang di dunia ini apalagi berdamai dengan perasaan, memang itu kenyataannya, bisa bahagia sebahagianya bahagia. Lantas, bagaimana jika ia datang tiba tiba tanpa alasan yang jelas, bisa rumit memang iya rumit kalau nggak didasari komitmen yang jelas.

Semula

Tak dapat dipungkiri Seketika hati berbicara Menyela keadaan sekeliling Tak dapat menyalahkan waktu Senantiasa mengatakan kenyataan Tak peduli siapa yang tertikam Tak dapat menuduh perasaan Yang tak tau menau tentang kejelasan Kejelasan antar dua insan Bila semua telah kembali Kalau memang takdir terima Kalau tidak ia akan pergi Tanpa jejak, dengan sendiri   SekedarPuisi Siwi…