Saat pagi menjelang, sang mentari merebahkan sinarnya pada atmosfer bumi, diiringi kicauan burung yang menyejukkan hati, hangatnya sinar mentari mengiringi tumbuhnya pepohonan nan hijau. Suara alarm yang terdengar lama kelamaan semakin keras membuatku tersadar dari alam mimpi, aku baru tersadar bahwa aku sekarang ada di tanah perantauan, suara lirih ibu yang setiap pagi membangunkanku kini berganti dengan alarm yang nyaring menyakitkan telinga, sarapan pagi yang biasanya tersaji di meja makan kini telah tiada, semua itu telah lenyap, yang ada hanyalah piring dan sendok tanpa lauk ataupun nasi diatasnya. Seketika itu aku terdiam, aku ingat bahwa dulu aku sering menyia nyiakan apa yang telah di anugerahkan Tuhan kepadaku saat aku masih berada di rumah, kali ini aku menyesal, kenapa aku dulu seperti itu? Waktu terus berjalan hari demi hari kujalani tanpa bimbingan sosok ibu di sampingku, hari hari ku terasa tak bermakna, aku merasa tak berdaya, bahkan aku merasa bahwa aku adalah makhluk Tuhan yang paling berdosa karena telah menyia-nyiakan anugerahnya beberapa waktu silam. Tanpa merubah semangatku untuk sekolah aku segera bersiap siap pergi ke sekolah bersama teman kos ku Endik, meskipun dengan wajah yang kurang ceria, dengan keadaan hati yang sedang kacau tapi aku memutuskan untuk tetap sekolah.

Endik :“Eh, Elang, kamu kenapa kok bingung terus mulai kemarin lusa.”

Elang :”Gue galau Ndik.”

Endik :”Cie, awal awal masuk sekolah udah galau, sekolah Lang sekolah jangan cewek aja yang lo pikirin.”

Elang :”Ha? Cewek? , ngarang lo.”

Endik :”Lha terus siapa, lo mikirin gue lang.”

Elang :”PD banget, ya enggak lah, udahlah berangkat sekolah dulu aja.”

Kaki ini mulai melangkah demi masa depan yang aku sendiri masih meragukannya apakah itu cerah ataukah sebaliknya.

Pukul 06.00 tepat (cerita di sekolah)

Kring.kring.kring (suara bel) semua murid SMK CITRA KARYA segera memasuki kelasnnya masing masing dengan suara gembira karena hari pertama sekolah adalah hari ini, dan saat ini adalah saat yang mereka nanti nanti setelah beberapa minggu liburan. Suasana baru, teman baru membuat mereka tersenyum dengan riangnnya, tetapi hal itu berbanding terbalik dengan aku, aku disini merasa sepi, hiduku merasa tak berdaya karena aku disini sendiri, jauh dari orang yang aku sayangi, IBUKU.

Dengan semangat yang lengah itulah sekolahku menjadi berantakan, dan aku hanya bisa pasrah dengan keadaan.

­­­—

Seiring berjalannya waktu jiwa ini tetap bertahan meski dengan semangat tak sebara api tak sekeras ombak. Tak terasa telah 1 bulan aku berada di sini berada di tanah perantauan tanpa sesosok ibu, aku masih terus terpuruk dengan kesedihan sejak awal aku menetap disini, aku bingung bagaimana cara mengakhiri semua ini. “Apakah dengan berhenti sekolah semua bebanku akan usai? Masa depanku nanti seperti apa? Bagaimana aku membahagiakan orang tuaku kalau aku tidak bekerja?” batinku berkecamuk dengan kerasnya, memikirkan hal hal yang belum pernah terfikirkan selama ini.

Sinar sang mentari begitu menyengat, jalan perkampungan yang kulewati terasa sunyi sepi, rupanya orang orang kampung memutuskan berteduh di rumah mereka daripada keluar menghadapi terik matahari siang itu, keringat bercucuran dari belahan tubuhku, dengan kemantapan hati saat itu juga aku bertekad, aku mampu sukses, aku mampu menggapai cita citaku, aku mampu membuat orang tuaku bahagia. Pada waktu itulah aku mulai bekerja keras demi meraih cita citaku.

Masa perubahan yang kujalani menghasilkan dampak yang besar dalam hidupku, sekolah ku mulai membaik dari hari ke hari, dan aku hanya bisa berdo’a, semoga waktu membawaku menuju kebahagiaan di esok hari diiringi ridho Tuhan.